MI Al Raudlah MI Al Raudlah Author
Title: Maksiat, Penghalang Mencari Ilmu
Author: MI Al Raudlah
Rating 5 of 5 Des:
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُه...
Maksiat, Penghalang Mencari Ilmu
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي


Aku pernah mengadukan kepada guruku, Imam Waki’, tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).
Ini adalah syair yang digubah oleh Imam Syafi’i, perihal kisahnya saat mengadu kepada sang guru, Imam Waki’ akan hapalannya yang terganggu. selain di I’anah, syair ini juga bisa ditemukan dalam kitab Ta’limul Muta’alim, dan umumnya santri diminta menghapal syair ini.
Bagi yang pernah membaca biografi Imam Syafi’i tentu bukan hal biasa jika beliau susah menghapal. Sebab Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya sungguh amat luar biasa, sebagaimana kami telah tulis sebelumnya di sini. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96).
Namun, ternyata ada suatu ketika Imam Syafi’i bermasalah dengan hapalan. Kusut otaknya. Ketika itu Imam Syafi’i mengadukan pada gurunya Waki’. Beliau berkata, “Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Gurunya, Waki’ lantas berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau merenungkan kembali!”
Imam Syafi’i pun merenung, ia merenungkan keadaan dirinya, “Apa yah dosa yang kira-kira telah kuperbuat?” Beliau pun teringat bahwa pernah suatu saat beliau melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya [ada pula yang mengatakan: yang terlihat adalah mata kakinya]. Lantas setelah itu beliau memalingkan wajahnya.
Ternyata inilah yang mengganggu hapalannya. Padahal tidak sengaja ia melihat paha atau mata kaki seorang perempuan, yang tidak halal baginya. Tetapi dengan hanya itu, hapalannya lantas terganggu. Lantas, bagaimana kita, yang mungkin hamper tiap hari melihat aurat wanita, baik disengaja maupun tidak?
Karena itu, dari sepenggal kisah Imam Syafi’i ini, bagi pencari ilmu, jauhkan diri dari maksiat. Fokuslah dalam menuntut ilmu. Kejar dengan sepenuh tenaga, hati, dan pikiran, sehingga mendapatkan ilmu yang barokah dan manfaat.

Sumber
Reaksi:

About Author

Advertisement

Posting Komentar

 
Top
 
Selamat datang di Web Resmi Madrasah Ibtidaiyah Al Raudlah....... Terima Kasih Atas Kunjungan Anda........