MI Al Raudlah MI Al Raudlah Author
Title: Malam Lailatul Qadar dan Samson
Author: MI Al Raudlah
Rating 5 of 5 Des:
Oleh: Ahmad Barjie B Mahasiswa Prodi Akhlak Tasawuf Pascasarjana IAIN Antasari Para orangtua kita yang sempat melewati tahun 1950-...
Malam Lailatul Qadar dan Samson
Oleh: Ahmad Barjie B
Mahasiswa Prodi Akhlak Tasawuf Pascasarjana IAIN Antasari

Para orangtua kita yang sempat melewati tahun 1950-an tentu masih ingat dengan film kolosal berjudul Samson and Delilah. Film ini diproduksi oleh Metro Golden Meyer (MGM) Amerika, dibintangi Robert Metchem cs.
Film berdurasi lebih tiga jam ini terkenal di Amerika dan Eropa, juga sangat disukai negara-negara muslim seperti Malaysia dan Indonesia. Di Banjarmasin film ini diputar berkali-kali di bioskop Rick (Ria Theatre), Orion (Dewi), dan bioskop lain seperti Royal, Oranye, Kalimantan dan Cempaka. Akibat serbuan televisi dan media hiburan lain, kini semua bioskop tersebut sudah almarhum, tapi sangat terkenal di zamannya dan banyak orang menyimpan kenangannya.
Tema besar film ini berangkat dari kisah tokoh di zaman Bani Israil yang bernama Samiun Al Ghazi. Karena lidah orang Barat tidak biasa menyebut demikian, maka namanya berubah menjadi Samson, inilah yang lebih terkenal dan banyak digunakan termasuk di Indonesia. Beberapa film dan cerita dengan versi dan konteks lain juga menggunakan nama Samson.
Perjuangan Panjang
Samson menjalani usia dewasanya lebih daripada 1.000 bulan (84 tahun). Waktu demikian lama digunakan semuanya untuk mengabdi kepada Allah. Malam beribadah dan siangnya berperang di jalan Allah, guna memerangi orang-orang kafir yang ingkar kepada Allah.
Ada versi mengatakan dia salah seorang nabi, rasul atau wali Allah. Samson diberi Allah perawakan kekar dan kuat serta kedigjayaan luar biasa. Semua peperangan yang dilakukan selalu dimenangkannya, berapa pun jumlah musuh dan perlengkapan senjatanya. Samson hanya melawan seorang diri dengan senjata andalan berupa tulang rahang keledai.
Raja dan tentara yang memusuhinya bingung. Merasa kewalahan, mereka berunding untuk mencari jalan lain. Tidak lagi berperang secara fisik, tetapi berusaha mencari titik lemah Samson melalui istrinya, Delilah.
Musuh-musuhnya mendekati dan mengimingi istri Samson dengan berbagai hadiah besar dan berharga tinggi. Mereka meminta agar Delilah mau memasung Samson, supaya jangan lagi memerangi mereka karena mereka sudah tidak sanggup melawannya.
Semula Delilah menolak hadiah-hadiah itu, tapi karena dibujuk berkali-kali akhirnya dia tergiur dan bersedia. Namun dia mengajukan syarat, kalau Samson sudah berhasil dipasung, jangan disiksa, cukup didiamkan agar jangan berperang saja. Delilah ingin menjadikan Samson sebagai suami rumahan. Musuh-musuhnya berjanji dan menyanggupi syarat tersebut.
Tiap malam, saat tidur, Delilah memasung Samson dengan berbagai macam tali, tetapi ketika bangun selalu berhasil dilepaskan dengan mudah melalui kesaktian yang diberikan Allah. Karena sayang kepada istrinya, Samson membuka rahasianya, bahwa kalau ingin mencoba memasungnya hingga tak bergerak lagi, cukup dengan beberapa helai rambutnya yang panjang, yang tersembunyi di balik serbannya. Samson mengira istrinya memasung hanya ingin bercanda.
Mengetahui rahasia ini, akhirnya Delilah berhasil memasung Samson hingga tak berdaya lagi. Dia kemudian melapor ke para pemberi hadiah bahwa Samson sudah terpasung, maka mereka pun beramai-ramai membawa dan mengarak Samson dengan paksa menuju istana. Tak peduli akan janji untuk tidak menyiksa, ternyata musuh-musuhnya ramai-ramai balas dendam, Samson disiksa. Bahkan, matanya ditusuk dengan besi panas hingga buta.
Di tengah kondisi kritis itu Samson berdoa kepada Allah agar kesaktiannya dipulihkan. Allah menerima doa hambaNya, tali pasungan terlepas dan gerakannya itu menggoncang dan menggetarkan istana hingga hancur lebur, menewaskan raja dan pasukan yang menyiksanya, termasuk istrinya. Namun istrinya sempat bertaubat dan Samson pun memaafkannya.
Doa Rasul
Cerita Samson di atas dikisahkan oleh KH Sofyan Hanafi, ulama sepuh di Banjarmasin dalam satu ceramahnya. Dahulunya, cerita ini disampaikan Malaikat Jibril kepada Rasulullah, sehingga beliau iri dan prihatin dengan umatnya. Rasulullah mengadu kepada Allah bahwa umat terdahulu diberi umur panjang, fisik besar dan kuat, sehingga ada yang sanggup beribadah malam dan berperang di siang harinya selama 1.000 bulan. Sedangkan umat beliau diberi umur pendek, fisik kecil dan lemah.
Lalu Jibril memberi kabar gembira dari Allah melalui QS Al Qadr, bahwa meskipun umat Muhammad (umat Islam) memiliki keterbatasan fisik dan umur, tapi mereka akan beroleh ganjaran pahala berlipat ganda bahkan melebihi 1.000 bulan jika mampu beribadah pada malam-malam yang mulia (lailat al qadar atau lailatul qadar), yang biasanya dihitung sejak pertengahan hingga malam terakhir Ramadan.
Meski umat Islam sekarang baik individu bahkan kelompok tak akan sanggup menyamai Al Ghazi. Ternyata oleh Allah SWT umat Muhammad juga dianugerahkan kemuliaan dan kehebatan, dengan adanya lailat al qadar yang rutin datang setiap bulan Ramadan.
Karena itu sudah semestinya, umat Islam gigih mengisi Ramadan dengan berbagai ibadah dan amal saleh, seperti membaca Alquran, salat-salat sunat, berzikir, berinfak untuk fakir miskin dan berbagi rezeki untuk kebahagiaan antarsesama.
Lebih baik umat Islam tidak perlu terlalu menghitung-hitung tanggal dan mencari-cari tanda malam turunnya al qadar tersebut, sebab antara umat Islam yang lebih awal dan kemudian memulai puasa tentu hitungan tanggal ganjilnya berbeda. Umat Islam pun tidak perlu mencari-cari tanda dan orang yang dihinggapi lailat al qadar sesudah Ramadan, yang biasanya menimbulkan heboh dan kontroversi.
Ulama terdahulu seperti Imam Al Ghazali, Syekh Arsyad Al Banjari juga sangat gigih mengisi malam-malam Qadar. Bahkan Syekh Abdussamad Al Palembangi digelari Datu Sanggul karena beliau selalu konsisten menunggu (menyanggul) malam qadar dan mengisinya dengan berbagai ibadah. Ternyata para ulama besar itu tidak pernah mengaku atau mengklaim bertemu lailat al qadar, padahal hampir pasti mereka menemuinya.
Kita jalani saja Ramadan dengan baik, konsisten berpuasa dan amalan lainnya sambil mengharap rida Allah, sebab dengan cara itu dosa kita akan terampuni. Man qama ramadhana imanan wahtisaban kharajat min zunubihi kayaumi waladathu ummuhu (siapa yang berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan secara optimal karena iman dan mengharap rida Allah, dia akan keluar dari dosanya seperti hari dia dilahirkan dari perut ibunya). Wallahu a’lam. (*)

Reaksi:

About Author

Advertisement

Posting Komentar

 
Top
 
Selamat datang di Web Resmi Madrasah Ibtidaiyah Al Raudlah....... Terima Kasih Atas Kunjungan Anda........